>
Tidak mudah menjadi kaum minoritas di tengah mayoritas. Dibutuhkan keteguhan hati untuk tetap mempertahankan prinsip-prinsip yang sejak semula diemban.
Itulah yang dirasakan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Banten, Ananta Wahana. Ananta merupakan satu-satunya anggota DPRD Banten yang beragama Katolik. Dalam menjalankan tugasnya, Ananta seringkali berseberangan dengan teman sejawatnya yang lain.Ananta yang sejak semula mengusung misi pluralisme kerap mendapat teguran dari beberapa rekannya. Tidak tanggung-tanggung, ia hampir dipecat ketika mencoba mengangkat isu toleransi beragama. “Ini Banten, Bung. Ini daerah Islam. Jangan macam-macam!” kata seorang atasan kepadanya.
(foto: facebook: Ananta Wahana)
Namun, ancaman tersebut tidak lantas mengurungkan niat Ananta untuk mengangkat pluralisme beragama di Banten. “Bagi saya, pluralisme sangat penting. Tapi ya begitulah kalau di Banten. Agak susah untuk mengupayakan hal ini,” ujarnya.
Kiprahnya di dunia politik terbilang berani. Baru-baru ini, Ananta membongkar kasus dugaan korupsi yang terjadi di lembaga tempatnya bekerja. Umat lingkungan Maria Regina Caeli, Kelapa Dua ini menemukan indikasi laporan keuangan reses anggota DPRD Provinsi Banten manipulatif. Motifnya membongkar kasus tersebut semata-mata untuk mengedepankan kejujuran dan keterbukaan. “Dalam politik, kejujuran dan keterbukaan sangat diperlukan,” katanya.
Ternyata, ancaman pemecatan bukan hal baru bagi Ananta. Dia pernah benar-benar harus angkat kaki dari sebuah perusahaan karena sikapnya yang vokal itu. “Tuhan memang sudah menyediakan jalan. Setelah saya keluar dari perusahaan tersebut, saya diberi jalan untuk masuk ke DPR RI pada tahun 2004,” katanya.
Ananta mengaku, DPR merupakan lahan basah yang menggiurkan. Namun dirinya berusaha menolak berbagai macam suap. Ketika masuk Pansus kedua, Ananta sudah dua kali menolak untuk menerima amplop putih.
Meski sering absen dalam berbagai kegiatan lingkungan gereja, Mantan Sekretaris DPD KBM Banten ini mengupayakan agar permasalahan di lingkungan bisa dibawa ke forum yang lebih tinggi. “Saya termasuk umat yang hampir merah karena jarang hadir, tetapi juga diusahakan untuk hadir dalam setiap kegiatan. Saya coba mengangkat persoalan-persoalan lingkungan ini di tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat DPRD,” tutupnya. (Nrt)
*dimuat di majalah WARNA edisi Juni 2010
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar